
Kegiatan muhibah ini biasa dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan, dengan maksud menjaga erat tali silahturahmi dan kerukunan sesama masyarakat melayu, karena selain mengandung nilai gotong royong, momen ini kerap dijadikan wadah membangun komunikasi warga pesisir di kepulauan.
Dua kecamatan yang ada di Kabupaten Natuna seperti, Kecamatan Pulau Tiga dan Pulau Tiga Barat mencakup 10 Desa diantaranya, Sabang Mawang, Sabang Mawang Barat, Sededap, Serantas, Tanjung Batang, Teluk Labuh, Pulau Tiga, Selading, Setumuk dan Tanjung Kumbik Utara.
Masih terus mempertahankan kelangsungannya, sebagai warisan budaya leluhur melayu setiap Bulan Suci Ramadhan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat dari 10 desa tersebut, akan secara bergilir menggelar rangkaian berbuka puasa bersama, sholat magrib, isya dan tarawih berjamaah hingga sahur bersama dari satu desa ke desa lainnya yang terpisah lautan.
Sebelum rangkaian muhibah ramadhan, pihak kecamatan melibatkan pihak desa dan KUA (Kantor Urusan Agama) setempat, menggelar pembahasan dan mengatur jadwal muhibah ini mulai dilakasanakan, serta menawarkan sejumlah desa yang akan menjadi tuan rumah bergilir, Selanjutnya, jadwal tersebut kemudian ditindaklajuti melalui rapat pembentukan panitia kecil bersama masyarakat ditingkat desa, untuk menyiapkan segala sesuatu halnya secara sukarela, mulai dari gotong royong membersihkan lingkungan, bagian konsumsi, menetapkan beberapa titik rumah warga untuk menjamu hidangan berbuka puasa hingga tempat beristirahat rombongan kafilah desa menjelang sahur.
Desa yang menjadi tuan rumah, telah menyiapkan beberapa titik rumah warga untuk menjamu hidangan berbuka puasa bersama tamu rombongan, yang kemudian dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah, menunggu datangnya waktu shalat isya dan tarawih berjamaah, umumnya undangan akan kembali disuguhkan makanan dan minuman pada titik awal berbuka puasa, sambil berdiskusi membangun komunikasi antar warga.
Nuansa religi benar-benar kental dirasakan meriah, dengan iringan kompang dan shalawat, menyambut kedatangan rombongan kafilah dari desa tetangga. Kapal nelayan tradisional sebagai sarana transportasi penyeberangan satu-satunya bagi masyarakat kepulauan yang membawa rombonganpun, tak luput dari hiasan pernak-pernik aneka warna bendera.
Pada Ramadhan 1443 H ini, pelaksanaan muhibah Ramadhan dilaksanakan mulai hari ke 5 hingga 19 Ramadhan, dengan melibatkan 11 masjid dan 2 surau dari 10 Desa, bertepatan dengan jadwal safari Pemkab Natuna, Bupati Natuna Wan Siswandi S.Sos M.Si didampingi Sekda Natuna Boy Wijanarko Varianto bersama sejumlah kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah), menghadiri Muhibah Ramadhan di Desa Sabang Mawang Kecamatan Pulau Tiga, Minggu (10/4).
Untuk menjangkau lokasi pelaksanaan muhibah yang dipusatkan di Masjid Al Bayan Desa Sabang Mawang ini, Bupati bersama rombongan, menempuh akses perjalanan darat selama sekitar 50 menit dari ibukota kabupaten dan melanjutkan penyeberangan menggunakan armada kapal nelayan selama 20 menit.
Setibanya rombongan Safari Ramadhan yang dipimpin Bupati, disambut antusias perangkat desa dan kecamatan serta warga setempat di Pelabuhan Desa Sabang Mawang. Melanjutkan perjalanan menuju rumah warga, untuk melaksanakan buka puasa bersama dengan hidangan khas melayu.
Rangkaian kegiatan muhibah dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah dan kembali menuju tempat persinggahan awal, untuk makan bersama.
Sambil berkumpul bersama warga, momen ini menjadi tradisi masyarakat untuk berdiskusi membangun komunikasi, mencakup informasi kebijakan pemerintahan, kegiatan pembangunan, hingga lingkup aktifitas warga antar desa.
Menyusul masuknya waktu sholat, warga kembali berdatangan ke masjid terdekat, untuk melaksanakan ibadah shalat isya dan tarawih berjamaah serta mendengarkan pembacaan ayat suci alquran.
” Jabatan yang saya emban hari ini adalah jabatan Innalilahi wa innailaihi Raji’un, Artinya jabatan ini datangnya dari Allah dan akan kembali pada Allah. Sejatinya jabatan hanya titipan, kapan saja bisa datang dan diambil Allah.”
Filosofi tersebut, mengajarkan kita untuk tetap bersyukur dan menjalankan segala sesuatunya dengan ikhlas dan amanah, menyadari semua rizki yang kita terima adalah titipan sementara, untuk menjauhkan diri dari sifat sombong.
Terkait nuansa Ramadhan yang tengah berlangsung, Wan Siswandi juga mengajak jamaah untuk menjadikan momen ini sebagai ajang pendidikan bagi umat muslim dalam melatih kedisiplinan, beribadah dan mengendalikan nafsu serta, meningkatkan iman dan taqwa dengan memperbanyak amal ibadah kepada Allah. Dimana kita sebagai mahluk ciptaan Nya harus mampu melakukan introspeksi diri, bahwa kita ini bukan apa apa dan bukan siapa siapa. Dihadapan Allah sama derajatnya baik itu pejabat, pengusaha, rakyat miskin dan hanya amal Ibadah, Habluminalllah, hubungan kita dengan Allah.
Tujuan hidup manusia hendaknya bukanlah melulu tentang urusan dunia saja, tetapi adalah kehidupan selanjutnya yang abadi. Sebabnya mulai saat ini, mari lah kita mengendalikan diri, untuk tidak selalu mengejar dunia, tetapi juga memikirkan amal perbuatan baik dan ibadah sebagai bekal untuk menghadap Allah kelak. Karena mengejar urusan dunia, tidak akan pernah cukup, jika rizki yang diperoleh tidak dibarengi rasa syukur atas setiap nikmat, bukan tentang kecil atau besar, banyak dan sedikit, tetapi bagaimana kita merasa cukup di setiap rezeki yang di berikan Allah.
Pada pesan penutupnya, Wan Siswandi juga memberikan apresiasi kepada pihak penyelenggara dan tuan rumah serta masyarakat di kecamatan Pulau Tiga dan Pulau Tiga Barat, yang telah berhasil mempertahankan eksistensi tradisi leluhur lewat Muhibah Ramadhan hingga ke beberapa regenerasi ini. Kegiatan serupa patut dijadikan contoh bagi masyarakat daerah lainnya, karena mencipatakan sekaligus Hablumminallah (beribadah kepada Pencipta) dan Hablumminannas (menjalin silahturahmi dengan sesama).
Semoga amal ibadah kita selama bulan suci ramadhan mendapat keberkahan dan pahala yang berlipat, serta kita semua diberikan kesehatan dan umur panjang, sehingga bisa bertemu lagi bersilahturami pada kesempatan bulan puasa ditahun tahun mendatang. (Hermann).