Pulau Setanau “Si Pulau Mungil” Penghuni Daftar Geosite Natuna

Kecamatan Pulau Tiga adalah bagian dari 17 kecamatan yang ada di kabupaten Natuna kepulauan Riau, daerah ini dihuni penduduk yang tersebar dibeberapa gugusan Pulau, dengan mayoritas pekerjaan warganya sebagai nelayan tangkap  tradisional dan budi daya ikan hidup berskala ekspor.

Geografis kepulauan di kecamatan Pulau Tiga ini, merupakan salah satu daerah yang sangat strategis dibidang pengembangan wisata dan aktifitas pelayaran, dengan dukungan alur laut dalam nan jernih serta terlindung pulau-pulau sehingga tidak terkena gangguan cuaca ektrim saat musim angin utara dan angin barat.

Kondisi perairan yang terjaga dari limbah sampah, menjadikan ekonomi masyarakat didaerah ini hidup sejahtera dengan menyandarkan penghasilan disektor kelautan perikanan, saat ini Kecamatan Pulau Tiga telah melalui pemekaran wilayah administrasi pada April 2016 lalu, menjadi dua kecamatan yakni, kecamatan Pulau Tiga menghimpun enam desa dan Kecamatan Pulau Tiga Barat dengan empat desa.

Desa Sabang Mawang yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Pulau Tiga, memiliki dua pulau tak berpenghuni yakni Pulau Setahi dan Pulau Setanau, mengintip lebih dalam, keberadaan Pulau Setanau meskipun terpisah hunian penduduk Desa Sabang Mawang, namun kebersihan pulau ini tetap terjaga dan tidak perlu diragukan, karena masyarakat Desa Sabang Mawang secara berkala melakukan gotong royong di Pulau yang dicanangkan sebagai destinasi wisata desa.

Saat ini Pulau Setanau telah memiliki sarana air bersih yang disuplai dari Desa Sabang Mawang menggunakan akses pipa air bawah laut, menyusul dibangunnya pelantar dan tambatan perahu, untuk memberikan kemudahan pengunjung yang datang menggunakan transportasi perahu nelayan saat air surut.

keindahan pulau setanau dengan hamparan pasir putih (foto:QQFirdaus)

Pulau Setanau jika dilihat dari udara berbentuk huruf T, dengan hamparan pasir putih yang memotong kordinat pulau, daerah ini selain kerap dikunjungi warga dari ibukota Kabupaten, juga dipadati warga sekitar sebagai lokasi event pada momen tertentu dan liburan serta silahturahmi saat suasana hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Pihak pemerintahan Desa Sabang Mawang, berencana untuk mengelola pulau ini dengan secara bertahap menyiapkan sarana pendukung wisata desa, untuk memberikan kemudahan bagi pengunjung, selain sarana air bersih untuk berbilas yang sudah dibangun, kedepannya akan menyusul pembangunan rumah-rumah pondok (gazebo), untuk berlindung bagi pengunjung saat panas terik dan hujan.

Pulau Setanau ini dikelilingi perairan dangkal berstruktur terumbu karang, dengan kondisi air yang jernih dan bebas sampah, pemandangan ini menjadi magnet bagi pengunjung yang datang, untuk berenang dan menikmati nuansa keindahan bawah laut (under water) menggunakan kaca mata renang.

Dari Kota Ranai atau pusat ibukota kabupaten Natuna, berkunjung ke Pulau Setanau, ditempuh dengan akses darat menggunakan kendaraan roda dua atau sepeda motor, dengan waktu tempuh sekitar 60 menit untuk tiba di Selat Lampa, sesampainya disana, kita bisa meninggalkan kendaraan dibagian penitipan dengan fasilitas parker yang dikelola warga setempat. sebelum melanjutkan penyebrangan dari pelabuhan rakyat Selat lampa, selama sekitar 45 menit menggunakan perahu nelayan atau pompong nama sebutan penduduk di Natuna.

Disarankan untuk pengunjung yang akan menggunakan jasa penyeberangan dengan armada perahu nelayan, dilakukan pada waktu pagi dan sore hari, menyesuaikan jadwal regular jasa penyebrangan masyarakat, terkecuali kita menggunakan sistem carter atau setidaknya menghubungi terlebih dahulu pihak penyedia jasa penyeberangan, untuk mengatur rencana.

Oh ya, sebelum menyeberang, ada baiknya kita memeriksa kelengkapan barang bawaan, maklum saja, tujuan kali ini adalah sebuah pulau tak berpenghuni, jadi, bisa dipastikan keperlukan pengunjung untuk membeli makanan dan minuman tidak tersedia disana, untuk itu, sebelum menggunakan penyeberangan dari pelabuhan selat lampa, disana tersedia beberapa warung dan rumah makan, yang paling tidak bisa kita singgahi untuk memenuhi kebutuhan ransum selama berlibur di Pulau Setanau.

Makanan khas buatan warga kecamatan pulau tiga juga bisa kita jumpai di warung terdekat yakni, kerupuk atom, kerupuk berbentuk bulat dan lonjong ini, berbahan dasar ikan tongkol yang diolah secara tradisional oleh industri rumahan (home industry) dari kelompok ibu rumah tangga sekitar.

Harga jual kerupuk atom bervariasi tergantung dari ukuran kemasan, yang pasti masih terjangkau semua kalangan, karena kerupuk atom asal Pulau Tiga dan Sedanau Kecamatan Bunguran Barat, cukup familiar dengan rasa ikannya, diikenal masyarakat Kepulauan Riau, karena biasa dijadikan sebagai buah tangan wisatawan dari Batam, Tanjungpinang serta Pontianak Kalimantan Barat.s

Perairan Selat Lampa ini juga sering dijadikan pilihan bagi keluarga atau komunitas penghobi memancing, ada yang sekedar menghabiskan akhir pekan dengan memancing di Pelabuhan, sebagian lagi menggunakan perahu nelayan bermalam diatas laut dengan sistem carter dari sore hingga pagi hari. Berbeda dengan Pulau Setanau, pengunjung hanya bisa memancing ikan, saat air laut sedang pasang.

Selama perjalanan menggunakan perahu nelayan yang bersuara mesin cukup berisik, kita disuguhkan dengan panorama keindahan laut, gugusan pulau, gumpalan awan putih, batu raksasa dibagian darat dan warna warni bangunan hunian warga yang bermukim dipelantaran, terkadang jika beruntung, kita disambut liukan tubuh sekelompok ikan lumba-lumba yang memandu kapal yang kita tumpangi.

Jangan lupa, untuk menghindari kulit hitam dari paparan sinar matahari, ada baiknya selama penyeberangan, kita menggunakan lotion sunscreen atau sunblock, supaya bebas berekspresi menghabiskan waktu berfoto dan mandi di pantai Pulau Setanau.

perairan laut yang terjaga menggoda pengunjung untuk terjun menyelami dasar laut (Foto: QQFirdaus)

Keindahan Pulau Setanau yang bersebelahan dengan Pulau Setahi ini, berhasil menarik perhatian pemerintah sehingga lolos dalam daftar Sembilan Geosite menuju Geopark Natuna.

Berkunjung ke Pulau Setanau di Kecamatan Pulau Tiga ini, serasa memiliki pulau pribadi, karena luas pulaunya tak lebih dari 1 hektar saja, kondisinya yang tak dihuni warga, menjaga privasi dan membuat kita bebas berekspresi selama liburan, sambil berkeliling mengkesplor keindahan pulau dan mengabadikan momen berharga.

Sayangnya, tempat ini belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah setempat, dalam bayangan saya, andai saja tempat ini dibangun fasilitas resort mini, tempat berteduh ditepi pantai dengan kursi dan hidangan air kelapa muda, apalagi ditambah wahana banana boat atau jet ski, sudah terbayang tempat ini tidak akan kosong pengunjung setiap harinya.

Tak heran, kalau tempat ini, kerap dijadikan lokasi berkumpul warga Kecamatan Pulau Tiga dan Pulau Tiga Barat pada event tertentu, karena Pulau Setanau ini memang memberikan relaksasi kenyamanan dan memanjakan bagi siapa saja yang memijakan kaki ditempat ini. Pulau sekecil ini, memiliki banyak sudut pandang yang bisa dijadikan latar berselfie untuk menggambarkan kebahagiaan saat bercerita usai berlibur di Pulau Setanau.

Pulau Setanau ini juga kerap didatangi trip kapal pesiar Natgeo (National Geography) hamper setiap dua tahun, menjadi langganan destinasi para wisatawan mancanegara, di mana para wisatawan akan menghabiskan waktu untuk berjemur, snorkeling dan diving.

aksi gotong royong masal dilakukan warga desa sabang mawang barat di pulau setanau

Ada hal menarik yang kadang menyebalkan, karena sejumlah detinasi wisata pantai dan mangrove (pohon bakau) yang ada di Natuna, terdapat populasi serangga bersayap yang mengigit kulit kita seperti nyamuk, namun berukuran sangat kecil, hewan ini memiliki sebutan agas bagi warga tempatan, habitatnya cukup menganggu pengunjung terutama saat air surut dan angina teduh.

Karena gigitan hewan ini memiliki bisa atau racun, yang bisa menyebabkan rasa tidak nyaman dengan gatal berlebih mengakibatkan pembengkakan pada permukaan kulit, bagi jenis kulit sensitif resiko terburuk mengakibatkan iritasi yang berakhir dengan membekas, untuk menghindari gigitan serangga ini, kita bisa melindungi kulit dengan lotion yang beraroma wangi, yang mudah ditemui di mini market atau warung toserba, sedangkan untuk mengobati gigitan serangga ini, warga tempatan biasanya mengusapkan cairan minyak tanah pada bagian gigitan, minyak batu atau menggunakan balm zambuk berwarna hijau.

Bagi pengunjung lokal yang berpengalaman berwisata diarea pantai dan mangrove, biasa mengusir kerumunan serangga ini dengan membuat pengasapan (fogging) menggunakan sabut kulit kelapa yang sudah kering dengan cara dibakar, seketika agas akan pergi menjauh karena terganggu aroma asap.

Upayakan para pengunjung wisata alam agar menjaga kebersihan dengan tidak meninggalkan bekas kemasan makanan dan minuman bawaannya, karena selain untuk tetap menjaga kebersihan objek wisata dari hal yang mencemari keindahan pemandangan, cara ini juga efektif mengurangi populasi agas si serangga bersayap yang menyakitkan.

Pastinya, dimanapun kita berada, meskipun tidak ditempat wisata, sebaiknya membiasakan diri untuk peduli lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarangan, dengan begitu kelangsungan alam tetap terjaga dan memberikan dampaik yang baik untuk kelangsungan hidup generasi penerus. Karena akibat kelalaian tangan manusia yang secara sadar maupun tidak disengaja, telah banyak ditemukan pencemaran laut yang mengakibatkan kepunahan ikan dengan kondisi mengenaskan.

 

 

Penulis: Herman
Exit mobile version